Minggu, 30 Juni 2013

Psikologi Positif

Psikologi yang berkembang dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi "negatif", karena berkutat pada sisi-negatif manusia. Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan terapi atas masalah-masalah kejiwaan. Padahal, manusia tidak hanya ingin terbebas dari problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi jenis lain yang menjawab harapan ini ?

Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.

Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer ini, Seligman memperkenalkan prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor pendukungnya. Dengan metode-metode praktis yang dirumuskannya, Anda dapat memanfatkan temuan-temuan terbaru dari sains kebahagiaan untuk mengukur dan mengembangkan kebahagiaan dalam hidup Anda.


Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas pada tahun 2000 oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi "Kami percaya bahwa psikologi positif akan muncul fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk membangun berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat. Psikologi positif mencari" untuk mencari dan membina jenius dan bakat ", dan" untuk membuat kehidupan normal lebih memuaskan ", tidak hanya untuk mengobati penyakit mental. Pendekatan ini telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada tahun 2006 studi di Universitas Harvard yang berjudul "Psikologi Positif" menjadi kursus semester yang paling populer semester.

Beberapa Psikolog Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm mengembangnak teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori yang dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak dikritik. Teori ini lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya keagamaan dan psikologi humanistic.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain. Yang selalu berhubungan dengan sisi negatif seseorang.

Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi positif, yaitu lebih menekankan apa yang benar/baik pada seseorang, dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi biasanya selalu menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi, kegelisahan dan lain lain.

Itulah sebabnya, ada aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif. Menurut Seligman, “Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.

Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi. Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat masalah yang ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia. Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi negatif.


Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Sebelumnya, psikologi lebih banyak membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif, seperti marah, benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus, disebutkan bahwa emosi positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal ini tidak jelas kenapa demikian. Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman yang subyektif dibanding melakukan emosi positif. Contohnya, pada saat kita marah, maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior, dan sebagainya. Ada suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, sehingga dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.

Psikologi positif tidak bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan atau gangguan (jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.

Jadi intinya saat ini kita sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita merubah diri kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif

Jumat, 28 Juni 2013

Gangguan Kepribadian : Narsisme

Narsistik berasal dari sebuah mitologi Yunani, Narcissus yang begitu bangga akan ketampanan dirinya. Suatu hari, ia berjalan-jalan ke dalam hutan dan bertemu dengan peri bernama Echo. Tertarik dengan ketampanan Narcissus, Echo menyatakan cinta, namun ditolak. Penolakan ini menyakiti hati Echo, dan membuat ia menangis. Aphrodite, dewi Cinta, mengetahui hal ini dan berusaha membalas Narcissus. Kala Narcissus minum di sebuah sungai, Aphrodite meminta Cupid untuk memanahnya dengan panah cinta. Narcissus pun jatuh cinta pada bayangannya di sungai. Ia mati dengan memandang bayangannya sendiri.


 Gangguan kepribadian narsistik tidak sama dengan percaya diri atau memiliki harga diri yang tinggi. Mereka yang menderita narsistik, memandang tinggi dirinya. Sedangkan orang yang sehat, tidak memandang diri mereka lebih dari yang dinilai orang lain.

Menurut psikoanalisa, gangguan ini muncul karena orangtua kurang menghargai apa yang dilakukan oleh anak dan cenderung menceritakan apa yang telah dicapai orangtua. Misal, bila anak bercerita tentang keberhasilannya mendapat peringkat satu di sekolah, namun orangtua tidak mengapresiasi dan menceritakan apa yang terjadi di kantor.

Terdapat berbagai faktor penyebab seseorang cenderung menjadi narsis. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor keturunan dan faktor persekitaran. Narsis biasanya timbul akibat daripada pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali daripada individu lain. Sebagai contoh, seseorang akan berasa dirinya cantik karena acapkali menerima pujian bahawa dirinya cantik meskipun pada awalnya dia tidak merasa dirinya sedemikian. Narsis tidak hanya termanifestasi pada perilaku yang gemar memuji dirinya sendiri, kerap menghadap cermin atau kerap bergaya persis model, tetapi juga terdapat implikasi lain daripada sikap narsis itu sendiri.

Menurut Hidayat (2004), narsisme merupakan gangguan kepribadian dan merupakan gangguan jiwa yang mempunyai prevalensi cukup tinggi, yaitu 5%-15% dan termasuk yang tidak mudah diobati. Penyebabnya diduga karena keturunan atau genetik (dijelaskan melalui penelitian terhadap 15.000 pasangan kembar, satu dan dua telur), temperamental (terkait dengan genetik atau keturunan, dapat diidentifikasi sejak masa kanak-kanak), biologik (hormon, neurotransmitter tertentu) dan psikodinamik (berbagai faktor psikologis).

Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, bilang ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.

Sedangkan tanda-tanda narsis dari Diagnostics and Statistics Manual, Fourth Edition-Text Revision (2000) yang harus kita waspadai untuk tahu apakah kita mengidap narsis atau tidak. Orang narsis merasa dirinya sangat penting dan ingin sekali dikenal oleh orang lain karena kelebihannya. Pengidap narsis juga yakin kalau dirinya unik dan istimewa. Pokoknya tidak ada yang bisa menyamai dirinya. Sisi sering dianggap teman- temannya suka memuji-muji diri sendiri. Gejala lain, mereka selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang sensitif terhadap kebutuhan orang lain karena yang ada dalam pikirannya cuma diri sendiri. Ditambah lagi, adanya rasa percaya orang lain itu berpikiran sama dengan dirinya. Orang narsis juga sensitif sekali kalau dikritik. Kritikan kecil bisa berarti sangat besar buat mereka.

Dalam kajian psikologi, secara umum ciri-ciri orang-orang narsistik yaitu antara lain
  • Superior. Superior atau paling hebat tetapi tanpa upaya yang sepadan dengan cita-cita atau kepentingannya itu,
  • Tak berempati, tidak mampu mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain,
  • Iri, sering merasa iri dengan orang lain atau yakin bahwa orang lain iri pada dirinya,
  • Fantasi, dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati,
  • Istimewa, mengganggap diri istimewa dan selalu meminta perlakuan khusus dari orang-orang yang berada disekitanya, meskipun itu merugikan orang lain,
  • Sombong dan congkak, karena merasa dirinya yang paling hebat maka tidak jarang memperlihatkan perilaku atau sikap yang congkak dan sombong.

Kamis, 27 Juni 2013

Sarlito Wirawan Sarwono : AKHIRNYA BBM NAIK JUGA

Tetapi sudah berapa korbannya ? Di Medan outlet KFC, yang sama sekali gak ada urusannya dengan BBM, dirusak massa, pengunjung ketakutan, pemilik dan pegawai dirugikan. Padahal mereka semua itu rakyat belaka. Di Jambi seorang jurnalis yang sedang meliput demo terkena selongsung peluru gas air mata, pas dimukanya. Di Makasar pendemo bentrok dengan warga, padahal jurnalis dan warga itu ya rakyat juga yang katanya sedang dibela oleh mahasiswa.


Belum lagi kerugian yang ditimbulkan oleh kemacetan yang berjam-jam sebagai akibat jalan diblokir massa, dan kerusuhan-keruruhan ini bukan terjadi sekali-dua-kali melainkan berkali-kali, berulang-ulang, selama hampir setahun ini. Senior saya, yang guru besar psikologi juga, pernah terkena gas air mata seluruh wajahnya, gara-gara beliau membuka pintu mobilnya, mau pulang setelah demo reda, padahal mobil itu sudah penuh dengan gas air mata dari sebuah peluru gas yang kebetulan menembus kaca belakang mobilnya. Korban yang sangat sia-sia yang ditimbulkan oleh orang-orang yang bernafsu demo (tidak ada isyu BBMpun mereka berdemo).

Yang lebih dirugikan lagi adalah para nelayan, para sopir truk, dan operator-operator pabrik yang pekerjaannya sangat tergantung pada premium dan solar. Tidak ada solar, nelayan tidak bisa melaut, sopir truk harus antri berjam-jam menghabiskan uang makannya, dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi, yang menyebabkan para pekerja pabrik tidak bisa bekerja, dan tidak ada penghasilan untuk anak-isterinya. Sementara itu bensin dan solar ditimbun oleh para penimbun yang ingin cari untung buat diri sendiri. Sekarang ditimbun dulu, nanti kalau sudah naik, baru dijual dengan untung yang berlipat ganda. Karena harga BBM tidak kunjung naik, maka BBM terus ditimbun. Kalaupun sempat dilepas, karena sepertinya harga BBM tidak jadi naik, begitu ada isyu naik lagi, ditimbun lagi.

Lain halnya dengan rakyat, yang katanya dibela oleh pendemo, yang tinggal di daerah-daerah yang jauh dari jalur distribusi BBM seperti pulau-pulau terluar, atau desa-desa di Papua yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat-pesawat terbang missionary, buat mereka harga BBM naik atau tidak, mereka harus membeli BBM dengan harga yang berkali-kali lipat. Itupun kalau barangnya ada.

Padahal ketika jaman Pak Harto, kenaikan harga BBM diumumkan di TV jam 21.00, jam 24.00 atau jam 00.00 langsung harga sudah naik. Tidak ada demo, apalagi korban gas air mata atau perusakan fasilitas umum. Paling-paling orang-orang mengantri menjelang tengah malam untuk membeli bensin atau solar dengan harga lama pada beberapa jam terkahir sebelum harga naik. Saya tidak pernah melakukan itu, karena saya hitung-hitung keuntungan beberapa rupiah dari membeli bensiun dengan harga lama itu, tidak sebanding dengan waktu saya untuk mengantri di pompa bensin. Tetapi hal seperti inilah yang menyebabkan ada sementara orang yang mengedarkan liwat twitter, bahkan ada yang sudah membuatnya sebagai motif kaos, gambar Pak Harto sedang tersenyum, dengan tulisan “Piye kabare, rak enak jamanku to?” (Apa kabar, enakan jaman saya, kan?)

Sebagai seorang militer pak Harto paham benar dengan yang disebut strategi pendadakan. Serangan dilakukan sebelum lawan siaga, tidak boleh ada kebocoran, dan lawan betul-betul dibuat tidak berkutik, karena memang tidak menduga adanya serangan. Strategi ini digunakan juga oleh Pak Harto dalam mengumumkan kenaikan harga BBM. Masyarakat tidak berkutik, tinggal nurut saja.

Startegi ini juga sesuai dengan teori psikologi massa. Massa itu rata-rata malas berpikir. Apa yang ada ya diikuti saja. Persis seperti rombongan bebek yang mengikuti saja bebek yang paling depan, yang disebut Sontoloyo, dan si Sontoloyo ini hanya mengikuti umbul-umbul pada tongkat panjang yang diacungkan oleh si penggembala itik dari belakang barisan bebek. Karena itu bebek-bebek itu bisa berbaris rapi. Tetapi begitu sampai ke tujuan penggembalaan (biasanya sawah yang baru selesai dipanen) si penggembala membiarkan itik-itiknya mencari makan sendiri-sendiri. Berpencaranlah bebek itu sambil bertelur. Si penggembala dengan senang memanen telur-telur itu.


Begitu juga halnya dengan massa rakyat Indonesia, Kalau didadak saja kenaikan BBM, hampir seluruh rakyat akan ikut saja. Paling-paling beberapa orang yang tidak senang saja akan ngomel di TV, tetapi sebentar saja akan berlalu. Pasti omelannya tertutup dengan isyu-isyu lain yang lebih seru seperti “dagang daging sapi”, atau kasus “Cebongan”.

Tetapi pendekatan pemerintah SBY lain sekali. Walaupun sudah berkali-kali ditegaskan oleh pemerintah sendiri, bahkan oleh anggota DPR, bahwa kenaikan harga BBM adalah wewenang pemerintah, tidak perlu konsultasi dulu dengan DPR, dengan alasan sosialisasi atau demokrasi rakyat diajak diskusi dulu. Di sinilah kesalahan fatalnya. 

Alasan-alasan pemerintah memang sangat masuk akal: pemanfaat subsidi adalah pemilik-pemilik mobil pribadi yang sebetulnya tidak memerlukan subsidi itu, APBN bisa jebol karena harus membayar subsidi BBM, lebih baik dana subsidi itu untuk membangun infrastruktur dan lainnya. Tetapi alasan-alasan itu untuk massa tidak penting. Alih-alih ditanggapi dengan baik, dengan adu argumentasi yang benar-benar rasional, reaksi yang timbul hanya “Tolak kenaikan harga BBM!” Titik! Dikipasi oleh Media Massa, nafsu amarah massa makin berkobar, dan kalau massa sudah marah, sulit sekali dikendalikan. Apalagi Polisipun di lapangan tidak berani tegas. Alih-alih mencegah demo, malah membiarkan sehingga berakhir anarkis.

Sosialisasi dan demokrasi sebetulnya bagus-bagus saja, tidak ada salahnya. Tetapi dalam teori kepemimpinan ada dalil yang menyatakan bahwa pemimpin berbeda dengan manajer. Seorang manajer sejauh mungkin harus mengikuti peraturan dan prosedur yang baku, agar semua berjalan baik, tertata rapi sesusai aturan. Sementara seorang pemimpin justru kadang-kadang harus berani keputusan terobosan yang cepat dan tegas yang mungkin melanggar aturan. Pokoknya tujuan tercapai. Masalah kita saat ini adalah bahwa Presiden yang seharusnya berperan sebagai pemimpin, lebih memilih untuk berperan sebagai manajer.

Rabu, 26 Juni 2013

Pengendalian Diri Bagi Remaja

Perubahan-perubahan sosial yang cepat (rapid sosial change) sebagai konsekuensi modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi telah mempengaruhi perilaku, nilai-nilai moral, etika, dan gaya hidup (value sistem and way of life).


Keberadaan hawa nafsu disamping memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, juga dapat melahirkan madlarat (ketidaknyamanan, atau kekacauan dalam kehidupan, baik personal maupun sosial). Kondisi ini terjadi apabila hawa nafsu tidak dikendalikan atau dikontrol, karena memang sifat yang melekat pada hawa nafsu adalah mendorong (memprovokasi) manusia kepada keburukan atau kejahatan (dalam Psikologi Belajar Agama, 2003).

Menurut Fachrurozi (dalam Jawa Pos, 2004) kegilaan masyarakat saat ini adalah personifikasi atas kegilaan yang dialami sebagai implikasi dari modernitas, bahwa modernitas, disamping melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek (teknologi informasi, ekonomi, politik, sosial, dan budaya), ternyata juga melahirkan kegilaan atau gangguan kejiwaan. Diharapkan setiap individu mampu mengontrol diri terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Tindakan-tindakan tidak terkontrol sering dikaitkan dengan remaja, karena seringkali bentuk perkelahian dilakukan oleh para remaja, sehingga perkelahian antar remaja sudah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat luas terutama di kota-kota besar, perkelahian ini biasanya dipicu oleh masalah-masalah yang sepele, seperti bersenggolan di jalan, atau saling pandang yang ditafsirkan sebagai bentuk menantang, dan biasanya berakhir dengan perkelahian, perkelahian antar remaja pada awalnya hanya melibatkan dua individu kemudian berkembang menjadi perkelahian antar kelompok.

Menurut Lewin (dalam Winarno, 2003) kondisi tersebut dikarenakan dalam kelompok terdapat sifat interdependen antar anggota dan kondisi seperti itu berpeluang menjadi konflik SARA, dikarenakan Indonesia terdiri berbagai macam suku, agama, ras, yang berbeda-beda, sehingga individu akan merasa cemas, tidak aman, dan mudah tersulut emosi bila kontrol diri individu kurang. Oleh karena itu, kontrol diri diperlukan untuk mengontrol emosi yamg berasal dari dalam dan luar individu sebagai bentuk sosialisasi yang wajar.

Menurut Drever, kontrol diri adalah kontrol atau pengendalian yang dijalankan oleh individu terhadap perasaan-perasaan, gerakan-gerakan hati, tindakan-tindakan sendiri, sedangkan Goleman (dalam Sarah, 1998) mengartikan bahwa kontrol diri sebagai kemampuan untuk menyesuaikan dan mengendalikan dengan pola sesuai dengan usia. Bander (dalam Sarah, 1998) menyatakan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan tindakan yang ditandai dengan kemampuan dalam merencanakan hidup, maupun frustasi-frustasi dan mampu menahan ledakan emosi. Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri, akan tetapi tidak semua remaja mudah tersulut emosinya atau tidak mampu untuk mengkontrol dirinya, pada remaja tertentu juga sudah matang dalam artian mampu mengkontrol setiap tindakan yang dilakukannya.

Selasa, 25 Juni 2013

Bagaimana Hubungan Emosi Dan Otak ?

Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap emosi adalah bagian yang disebut sistem limbik. Adapun struktur otak yang berperan adalah hippocampus, cingulate gyrus, rhinal cortex, amygdala, dan orbitofrontal cortex. Disanalah emosi diatur. Mulai dari menerima informasi tentang situasi, memunculkan adanya perasaan tertentu, sampai membangkitkan reaksi fisiologis.
 
 
Jaak Pankseep, seorang peneliti emosi terkemuka, mengemukakan adanya aliran perintah emosi di dalam otak. Aliran perintah emosi itu memiliki 2 macam cara yang simultan., yakni komunikasi pada beberapa struktur otak dan melakukan fungsi merespon situasi yang menimbulkan tantangan (terdiri dari 7 hal, yakni yang bisa membangkitkan harapan, kemarahan, ketakutan, dorongan seksual, perlindungan, kepanikan atau keterpisahan, dan permainan atau dominasi). Keduanya menyampaikan informasi dari organ pengindra (penglihat, pendengar, pencium, perasa, peraba), association cortex, dan dari memori ke sistem limbik dan bagian lain dari sistem syaraf. Sebagai hasilnya, individu akan berperilaku secara integral dan adaptif. Jika marah maka akan menunjukkan ekspresi marah. Tidak akan terjadi saat marah malah menunjukkan ekspresi bahagia.

Menjadi Diri Sendiri Ditinjau Dari Sisi Psikologis

Bayangkan diri Anda membeli sebuah mobil baru. Apa yang Anda rasakan ? Senang dan bahagia ? Sekarang bayangkan Anda berhasil melakukan sesuatu yang dari dulu benar-benar ingin Anda lakukan. Seperti, mendapatkan pekerjaan yang Anda dambakan, mencapai puncak sebuah gunung yang dari dulu ingin Anda daki, atau berhasil membuat sebuah resep masakan dengan sempurna. Apa yang Anda rasakan ? Senang dan bahagia ? Adakah perbedaan perasaan senang dan bahagia pada kedua bayangan tersebut ?


Sejak jaman Yunani kuno, Aristoteles sudah merasa bahwa ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan yang sekedar memberikan rasa senang, seperti membeli mobil baru, merasakan nikmatnya mabuk setelah meminum alkohol, melakukan hubungan seks dan lain-lain. Jika Aristoteles menamakan kebahagiaan yang menimbulkan rasa senang sebagai kebahagiaan Hedonic, Aristoteles menamakan kebahagiaan “lain” ini sebagai kebahagiaan Eudaimonic, yaitu saat seseorang merasa potensi hidupnya telah berjalan secara maksimal.

Kebahagiaan Eudamonic, menurut Aristoteles, kebahagiaan yang tidak kosong atau yang hilang setelah sumber kebahagiaan itu sudah tak terlihat mata atau tak terasa oleh indera perasa. Sebagai contoh, menjalin hubungan yang indah dengan seseorang bisa mendatangkan senyum ke wajah kita, bahkan saat orang tersebut sedang jauh di negeri seberang, atau bahkan sudah meninggal.

Menurut Aristoteles, kebahagiaan Eudaimonic lebih bersifat kejiwaan, sehingga lebih membuat jiwa seseorang sejahtera. Lihat saja contoh di atas, perasaan saat kita berhasil meraih cita-cita yang sudah lama kita impikan tentu lebih berharga dari sebuah mobil baru, ‘kan? Peneliti di jaman modern ini mengamini penjelasan Aristoteles.

Tiga orang peneliti dari Amerika Serikat (Michael Steger, Todd Kashdan, dan Shigehiro Oishi) membuktikan perkataan Aristoteles. Mereka menemukan bahwa dalam hidup, orang akan menemukan kebahagiaan Hedonis atau kebahagiaan Eudamonic. Tapi hanya kebahagiaan Eudamonic yang berhubungan dengan kesejahteraan jiwa (psychological well-being). Mereka menemukan bahwa setelah menjalani kebahagian Eudamonic, orang merasa hidupnya lebih memuaskan, merasa bahwa hidupnya lebih memiliki arti, dan merasakan emosi yang lebih positif.

Salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan Eudamonic adalah dengan menjadi diri sendiri. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang akuntan yang merasa bahwa dia lebih senang menjadi seorang pelukis. Tentu dia akan merasa lebih bahagia jika dia beralih profesi menjadi seorang pelukis (atau setidaknya mendapat kesempatan ikut les lukis di akhir pekan). Atau contoh lain, seorang istri yang merasa bersalah karena dia tertarik pada rekan kerjanya di kantor. Rasa bersalahnya ini (yang menghambat rasa bahagia) dapat dihilangkan dengan menerima kenyataan bahwa dia tertarik pada orang lain selain suaminya, dan hal tersebut tidak apa-apa asalkan dia tidak selingkuh dengan orang tersebut.

Menjadi diri sendiri memang membutuhkan usaha dan keberanian. Kita harus bersedia mendengarkan dan menerima pikiran-pikiran tergelap kita. Kita juga harus mencoba mengikuti keinginan terdalam kita (misal, seorang pria yang ingin operasi kelamin karena merasa bahwa jiwanya adalah wanita) walaupun mendapatkan tekanan dari keluarga atau lingkungan di sekitar kita. Menjadi diri sendiri memang memiliki resiko sendiri. Tetapi, di jaman yang makin terbuka ini, sekarang adalah saat yang paling kondusif untuk mencoba menjadi diri sendiri, agar Anda bahagia dan sejahtera secara psikologi.

 
Cara-cara untuk Menjadi Diri Sendiri
  1. Membaca novel. Membaca novel memberikan kesempatan bagi Anda untuk melihat sudut pandang orang lain. Mungkin, dengan mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang Anda, justru Anda akan menemukan sudut pandang yang lebih cocok dengan diri Anda.
  2. Meditasi. Selain menjadi kesempatan untuk mendengarkan suara-suara di dalam diri Anda, meditasi dapat memberikan kebahagiaan yang tidak tergantung pada hasil kerja Anda. Dengan mengetahui kebahagiaan murni tersebut, Anda bisa mencari tahu apa yang benar-benar membuat Anda bahagia.
  3. Memilih apa yang Anda inginkan. Jangan biarkan lingkungan mendikte Anda. Tentukan apa yang Anda inginkan, dan lakukanlah. Sekali-sekali bahkan jangan terlalu memikirkan keputusan Anda.
  4. Berhubungan dengan orang lain. Temukan bahwa orang lain juga ingin (dan sudah) menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.
  5. Bersenang-senang sesuai dengan siapa diri Anda. Olah raga atau berbincang-bincang tanpa arah dengan teman Anda di kafe mungkin adalah ide baik (jika memang Anda menyukainya).
  6. Menerima kekalahan. Jangan biarkan kegagalan menambah ketidakbahagiaan Anda. Menerima kegagalan terbukti dapat mengurangi rasa kecewa.

Minggu, 23 Juni 2013

Pembagian Emosi Berdasarkan Nilai Positif Dan Negatif

Emosi bisa dibedakan dalam nilai positif dan negatif. Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak jelas posisinya. Kadang bisa sebagai emosi positif kadang bisa sebagai emosi negatif, seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif berperan dalam memicu munculnya kesejahteraan emosional (emotional well-being) dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi negatif. Jika emosi Anda positif, maka Anda akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. Misalnya saat Anda sedang merasa bahagia, tiba-tiba ada yang memaki Anda, maka Anda lebih sulit untuk tersinggung. Emosi-emosi yang bernilai positif diantaranya adalah sayang, suka, cinta, bahagia, gembira, senang, dan lainnya.
 
 

Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang mengganggu individu maupun masyarakat. Biasanya, orang menekankan pada emosi yang negatif. Anda cenderung untuk lebih memperhatikan emosi-emosi yang bernilai negatif. Misalnya sedih, marah, cemas, tersinggung, benci, jijik, muak, prasangka, takut, curiga dan sejenisnya. Bukankah emosi-emosi itu mengganggu Anda? Mereka yang mudah tersinggung, gampang marah-marah, dan berprasangka tidak akan disukai masyarakat. Mereka yang mengalaminya pun tidak akan merasakan sejahtera dalam hidupnya.

Emosi positif dan negatif sangat mempengaruhi perasaan sejahtera seseorang. Orang yang memiliki banyak emosi positif dan kurang memiliki emosi negatif biasanya merupakan orang-orang yang berbahagia atau sejahtera dalam hidupnya. Sedangkan mereka yang lebih banyak memiliki emosi negatif hidupnya kurang sejahtera. Selain oleh emosi, perasaan sejahtera juga ditentukan oleh kepuasan hidup. Jika seseorang merasa bahwa hidupnya secara keseluruhan memuaskan, maka ia akan mengalami sejahtera (kehidupan yang berbahagia). Singkatnya, seseorang yang memiliki derajat tinggi akan perasaan sejahtera adalah ia yang puas terhadap hidupnya, banyak mengalami emosi yang positif dan kurang mengalami emosi yang negatif.

Apakah Cinta Ada Karena Insting Dasar Manusia ?

Banyak ahli menyebutkan bahwa cinta merupakan salah satu emosi dasar yang dimiliki manusia, selain marah, bahagia, sedih, terkejut, jijik dan takut. Tidak ada manusia normal yang tidak mengalami cinta dalam hidupnya.


Kapan cinta romantik mulai dirasakan seseorang? Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak umur 3,5 tahun sudah bisa mengalami cinta yang penuh hasrat. Banyak yang masih ingat, pada saat masih sekolah dasar dulu telah mengalami jatuh cinta. Mereka begitu merindukan seseorang, bila bertemu hati berdegup kencang, dan senang sekali bisa melihatnya. Pendek kata, mereka telah jatuh cinta pada saat masih begitu muda. Perasaan cinta berhasrat itu (passionate), semakin menjadi-jadi pada saat seorang anak beranjak puber.

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa pada saat masih bayi, cinta sudah dirasakan. Namun berbeda bentuk dengan cinta pada orang dewasa. Ini yang membuat orang berkesimpulan bahwa cinta sudah ada dalam gen manusia. Merupakan hal alamiah seseorang memiliki cinta. Cinta yang dialami seseorang pada saat dewasa diketahui tergantung pada tipe kelekatan yang dimiliki saat orang itu masih kecil.

Bayi akan memiliki kelekatan aman (secure) pada ibunya jika mendapat afeksi yang dalam dan dibiarkan independen. Pada saat dewasa, mereka akan merasa aman dengan keintiman dan mampu untuk percaya dan bergantung pada orang lain. Bayi yang memiliki kelekatan ambivalen (disebabkan karena dibiarkan tergantung pada ibu, mengalami takut dikendalikan atau dikerasi), maka ketika dewasa, mereka akan mudah jatuh cinta, sangat khawatir diabaikan, dan ingin mencari kedekatan yang sedekat-dekatnya dengan orang lain. Adapun bayi yang memiliki kelekatan menghindar karena banyak diabaikan secara emosional, pada saat dewasa akan merasa kurang nyaman dengan hubungan yang intim dan dekat, serta sulit bergantung pada orang lain.

Sabtu, 22 Juni 2013

Adakah Tipe Cinta Yang Berbeda ?

Apa cinta yang Anda rasakan ? Boleh jadi bergelora dan penuh hasrat. Namun orang lain mungkin merasakan cinta tidak seperti Anda. Mereka tidak bergelora dalam merasakan cinta. Nah, sejak dulu para ahli menyadari perbedaan itu dan telah mencoba menyingkapkan perbedaan-perbedaan cinta yang dialami manusia.



Banyak ahli membedakan adanya 2 tipe cinta yang berbeda, yakni cinta yang penuh hasrat (passionate love) dan cinta yang penuh keintiman (companionate love). Keduanya berbeda dalam intensitas emosi yang dialami. Cinta yang penuh hasrat ditandai adanya intensitas emosi yang tinggi, dan penuh gelora. Sedangkan cinta yang penuh keintiman kurang adanya intensitas emosi, namun adanya kelekatan, keintiman dan komitmen tinggi terhadap cinta.

Sebagian ahli menemukan bahwa cinta tidak hanya terpolarisasi dalam 2 kutub berbeda seperti di atas. Berdasarkan penelitian, mereka mengidentifikasi tipe-tipe cinta yang lain, yang harus dibedakan menjadi tipe cinta tersendiri. Salah satu peneliti cinta, yakni ahli psikologi Robert Sternberg, berhasil mengidentifikasi suatu model cinta yang disebut segitiga cinta atau ‘triangle of love’. Menurutnya, cinta memiliki tiga dimensi utama, yakni hasrat (passion), keintiman/kedekatan (intimacy), dan komitmen (commitment). Peneliti lain menemukan hal yang tidak jauh berbeda. John Allan Lee, seorang antropolog, berhasil mengidentifikasi bahwa cinta terdiri dari 6 jenis yang berbeda. Identifikasinya dikenal dengan sebutan enam warna cinta atau ‘six color of love’. Lee membedakan ada tiga cinta primer, yakni eros, ludus, dan storge, serta tiga jenis cinta sekunder, yakni mania, pragma, dan agape. Sementara itu Clyde Hendrick & Susan Hendrick juga berhasil mengidentifikasi enam tipe cinta berbeda, yaitu passionate love, game-playing love, friendship love, practical love, dependent love, dan selfless love.


Selain ketiga tipologi cinta di atas, masih ada pembagian tipe-tipe cinta yang berbeda. Hampir setiap kebudayaan memiliki pembagian tersendiri. Misalnya ada yang membagi cinta dalam 4 jenis, yakni tipe cinta api, cinta air, cinta udara, dan cinta tanah. Ada juga yang membaginya berdasarkan mitologi binatang , misalnya cinta anjing, cinta merpati, dan lainnya. Pendek kata, cinta memang memiliki tipe-tipe.

Buku ini hanya akan membahas tipologi cinta menurut Robert Sternberg yakni segitiga cinta dan enam warna cinta dari John Allan Lee. Keduanya dibahas di sini karena keduanya merupakan tipologi yang paling banyak digunakan didunia akademik, oleh karena itu cukup teruji kebenarannya.

Jumat, 21 Juni 2013

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosi. Istilah itu sedemikian masif satu dekade belakangan ini. Puluhan buku diterbitkan untuk mengupasnya. Dipercaya bahwa kecerdasan emosi sangat menentukan kesuksesan seseorang. Bahkan ada yang menyatakan bahwa kecerdasan emosi lebih penting ketimbang kecerdasan intelektual. Jika kecerdasan intelektual relatif tergantung pada faktor genetika, maka kecerdasan emosi bisa dikembangkan secara terus menerus tanpa henti. Lalu, apakah sebenarnya kecerdasan emosi itu ?


Peter Salovey dan John D. Meyer adalah orang yang pertama-tama mengenalkan istilah kecerdasan emosi. Mereka menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengerti emosi, menggunakan dan memanfaatkan emosi untuk membantu pikiran, mengenal emosi dan pengetahuan emosi, dan mengarahkan emosi secara reflektif sehingga menuju pada pengembangan emosi dan intelektualitas. Menurut mereka, terdapat empat tahapan keterampilan emosi untuk mencapai kecerdasan emosi. Masing-masing dari empat tahapan kecerdasan emosi itu memiliki empat hal. Berikut penjelasannya masing-masing.

Tahap 1. Persepsi, penilaian, ekspresi emosi
Tahap pertama ini terdiri dari empat hal :
  1. Mampu mengenal emosi secara fisik, rasa, dan pikir. Artinya seseorang mampu mengenali emosi yang terwujud dalam ekspresi fisik, dalam perasaan yang dirasakan, dan yang ada dalam pikiran.
  2. Mampu mengenal emosi pada orang lain, desain, karya seni dan lainnya melalui bahasa, bunyi, penampilan dan perilaku. Artinya, selain mampu mengenali emosi orang lain, juga mampu mengenali emosi yang tergambar dalam sebuah cerita atau musik, mengenali emosi yang diekspresikan tokoh dalam lukisan dan lainnya.
  3. Mampu mengekspresikan emosi secara tepat dan menunjukkan kebutuhan yang terkait dengan perasaannya.
  4. Mampu membedakan ekspresi perasaan yang tepat dan yang tidak tepat, antara jujur dan yang tidak jujur. Seseorang tahu bahwa ekspresi emosinya jujur atau tidak. Juga tahu orang lain jujur atau tidak. Begitu juga tahu apakah emosinya dalam suatu situasi tepat atau tidak. Misalnya tahu bahwa dalam upacara pernikahan tidaklah tepat jika bersedih.

Tahap 2. Fasilitasi emosi untuk berpikir
Tahap kedua ini terdiri dari empat hal , yaitu :
  1. Emosi memberikan prioritas pada pikiran dengan mengarahkan perhatian pada informasi yang penting. Misalnya menghindar bahaya lebih penting karena itu takut datang.
  2. Emosi cukup jelas dan tersedia sehingga emosi tersebut dapat digunakan sebagai bantuan untuk menilai dan sebagai ingatan yang berhubungan dengan rasa.
  3. Perubahan emosi mengubah perspektif individu dari optimis menjadi pesimis, mendorong untuk mempertimbangkan berbagai pandangan.
  4. Emosi mendorong adanya pembedaan pendekatan khusus dalam pemecahan masalah. Misalnya saat bahagia akan mendorong lebih kreatif.

Tahap 3. Pengertian dan penguraian emosi; penggunaan pengetahuan emosi.
Tahap ketiga ini terdiri dari empat hal, yaitu :
  1. Mampu memberikan label emosi dan mengenal hubungan antara berbagai kata dan emosi itu sendiri.
  2. Mampu untuk mengartikan bahwa emosi berkaitan dengan hubungan. Misalnya marah terkait dengan gangguan, sedih terkait dengan kehilangan, takut terkait dengan ancaman, dan lainnya.
  3. Mampu mengerti rasa yang kompleks. Misalnya mampu memahami terdapatnya campuran rasa, ada cinta, cemburu, benci sekaligus, lalu antara terkejut dan takut, dan lainnya.
  4. Mampu mengenali perpindahan diantara emosi. Misalnya dari rasa bangga menjadi malu, dari rasa bahagia menjadi sedih, dari rasa tersinggung menjadi rasa kagum.

Tahap 4. Pengarahan reflektif emosi untuk mempromosikan pengembangan emosi dan intelektual
Tahap terakhir ini juga terdiri dari empat hal, yaitu :
  1. Mampu untuk tetap terbuka untuk rasa menyenangkan maupun tidak menyenangkan
  2. Mampu melibatkan diri atau menarik diri secara reflektif dari suatu emosi dengan mendasarkan pada pertimbangan adanya informasi atau kegunaan
  3. Mampu memantau emosi secara reflektif dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain.
  4. Mampu mengelola emosi dalam diri sendiri dan orang lain dengan mengurangi emosi negatif dan memperbesar emosi positif, tanpa menambahkan atau melebih-lebihkan informasi yang menyertainya.

Pengendalian Diri Bagi Remaja

Perubahan-perubahan sosial yang cepat (rapid sosial change) sebagai konsekuensi modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi telah mempengaruhi perilaku, nilai-nilai moral, etika, dan gaya hidup (value sistem and way of life).



Keberadaan hawa nafsu disamping memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, juga dapat melahirkan madlarat (ketidaknyamanan, atau kekacauan dalam kehidupan, baik personal maupun sosial). Kondisi ini terjadi apabila hawa nafsu tidak dikendalikan atau dikontrol, karena memang sifat yang melekat pada hawa nafsu adalah mendorong (memprovokasi) manusia kepada keburukan atau kejahatan (dalam Psikologi Belajar Agama, 2003).

Menurut Fachrurozi (dalam Jawa Pos, 2004) kegilaan masyarakat saat ini adalah personifikasi atas kegilaan yang dialami sebagai implikasi dari modernitas, bahwa modernitas, disamping melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek (teknologi informasi, ekonomi, politik, sosial, dan budaya), ternyata juga melahirkan kegilaan atau gangguan kejiwaan. Diharapkan setiap individu mampu mengontrol diri terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Tindakan-tindakan tidak terkontrol sering dikaitkan dengan remaja, karena seringkali bentuk perkelahian dilakukan oleh para remaja, sehingga perkelahian antar remaja sudah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat luas terutama di kota-kota besar, perkelahian ini biasanya dipicu oleh masalah-masalah yang sepele, seperti bersenggolan di jalan, atau saling pandang yang ditafsirkan sebagai bentuk menantang, dan biasanya berakhir dengan perkelahian, perkelahian antar remaja pada awalnya hanya melibatkan dua individu kemudian berkembang menjadi perkelahian antar kelompok.

Menurut Lewin (dalam Winarno, 2003) kondisi tersebut dikarenakan dalam kelompok terdapat sifat interdependen antar anggota dan kondisi seperti itu berpeluang menjadi konflik SARA, dikarenakan Indonesia terdiri berbagai macam suku, agama, ras, yang berbeda-beda, sehingga individu akan merasa cemas, tidak aman, dan mudah tersulut emosi bila kontrol diri individu kurang. Oleh karena itu, kontrol diri diperlukan untuk mengontrol emosi yamg berasal dari dalam dan luar individu sebagai bentuk sosialisasi yang wajar.

Menurut Drever, kontrol diri adalah kontrol atau pengendalian yang dijalankan oleh individu terhadap perasaan-perasaan, gerakan-gerakan hati, tindakan-tindakan sendiri, sedangkan Goleman (dalam Sarah, 1998) mengartikan bahwa kontrol diri sebagai kemampuan untuk menyesuaikan dan mengendalikan dengan pola sesuai dengan usia. Bander (dalam Sarah, 1998) menyatakan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan tindakan yang ditandai dengan kemampuan dalam merencanakan hidup, maupun frustasi-frustasi dan mampu menahan ledakan emosi. Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri, akan tetapi tidak semua remaja mudah tersulut emosinya atau tidak mampu untuk mengkontrol dirinya, pada remaja tertentu juga sudah matang dalam artian mampu mengkontrol setiap tindakan yang dilakukannya.

Kamis, 20 Juni 2013

Memahami Perkembangan Psikologi Remaja

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan topan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Ciri perkembangan psikologis remaja adalah adanya emosi yang meledak-ledak, sulit dikendalikan, cepat depresi (sedih, putus asa) dan kemudian melawan dan memberontak. Emosi tidak terkendali ini disebabkan oleh konflik peran yang senang dialami remaja. Oleh karena itu, perkembangan psikologis ini ditekankan pada keadaan emosi remaja.


Keadaan emosi pada masa remaja masih labil karena erat dengan keadaan hormon. Suatu saat remaja dapat sedih sekali, dilain waktu dapat marah sekali. Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri sendiri daripada pikiran yang realistis. Kestabilan emosi remaja dikarenakan tuntutan orang tua dan masyarakat yang akhirnya mendorong remaja untuk menyesuaikan diri dengan situasi dirinnya yang baru. Hal tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Hurlock (1990), yang mengatakan bahwa kecerdasan emosi akan mempengaruhi cara penyesuaian pribadi dan sosial remaja. Bertambahnya ketegangan emosional yang disebabkan remaja harus membuat penyesuaian terhadap harapan masyarakat yang berlainan dengan dirinya.

Menurut Mappiare (dalam Hurlock, 1990) remaja mulai bersikap kritis dan tidak mau begitu saja menerima pendapat dan perintah orang lain, remaja menanyakan alasan mengapa sesuatu perintah dianjurkan atau dilarag, remaja tidak mudah diyakinkan tanpa jalan pemikiran yang logis. Dengan perkembangan psikologis pada remaja, terjadi kekuatan mental, peningkatan kemampuan daya fikir, kemampuan mengingat dan memahami, serta terjadi peningkatan keberanian dalam mengemukakan pendapat.

Berikut ada buku tentang Psikologi Remaja, oleh bapak Sarlito W. Sarwono :D

 

Proses Terjadinya Stres

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya.



Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari, 2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

1. Stres tahap I

Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :
  1. Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting)
  2. Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya
  3. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres tahap II

Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut :
  1. Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar
  2. Merasa mudah lelah sesudah makan siang
  3. Lekas merasa capai menjelang sore hari
  4. Sering mengeluh lambung / perut tidak nyaman (bowel discomfort)
  5. Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar)
  6. Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang
  7. Tidak bisa santai.

3. Stres Tahap III

Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu :
  1. Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya keluhan “maag”(gastritis), buang air besar tidak teratur (diare)
  2. Ketegangan otot-otot semakin terasa
  3. Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat
  4. Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia)
  5. Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.
4. Stres Tahap IV

Gejala stres tahap IV, akan muncul :
  1. Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit
  2. Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit
  3. Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate)\
  4. Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari
  5. Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan
  6. Daya konsentrasi daya ingat menurun
  7. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya.
 5. Stres Tahap V

Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut :
  1. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion)
  2. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana
  3. Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder)
  4. Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

6. Stres Tahap VI

Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut :
  1. Debaran jantung teramat keras
  2. Susah bernapas (sesak dan megap-megap)
  3. Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran
  4. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan
  5. Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

Jumat, 14 Juni 2013

Kapan seseorang dikatakan berbohong ?

Ada pertanyaan mendasar yang harus tuntas sebelum membahas kebohongan lebih mendalam, yakni kapan seseorang dinyatakan berbohong. Jika bohong artinya menyatakan sesuatu yang tidak ada dasar realitanya, lalu apakah semua yang tidak benar yang dikatakan orang dianggap bohong dan penyampainya di cap pembohong ? Ini pertanyaan yang jawabannya tidak mudah.



Apakah berbohong jika mengatakan sesuatu yang diyakini namun kemudian terbukti salah ? Misalnya Isaac Newton, salah seorang ilmuwan peletak dasar-dasar fisika modern yang menemukan hukum gravitasi, mengatakan bahwa alam semesta statis. Ia meyakininya dan berupaya membuktikannya. Ternyata, pada tahun 1920-an dibuktikan oleh Edwin Hubble bahwa alam semesta tidak statis tetapi berkembang terus menerus. Apakah Isaac Newton berbohong ? Secara substantif ia jelas berbohong karena alam semesta terbukti tidak statis. Namun ia tidak dapat dikatakan berbohong karena menyatakannya berdasarkan keyakinan yang diyakini. Ia tidak tahu bahwa dirinya telah menyatakan sesuatu yang tidak benar.

Apakah juga sebuah kebohongan jika mengatakan sesuatu yang diyakini banyak orang padahal itu tidak akurat ? Misalnya mengatakan penemu pertama benua Amerika adalah seorang penjelajah Italia bernama Cristopher Columbus. Buku-buku sejarah menyebutkan demikian. Hampir tidak ada yang mengatakan hal itu sebagai kebohongan. Padahal, benua Amerika sudah ada penghuninya, yakni orang Indian, jauh sebelum Columbus datang ke benua tersebut. Disinyalir orang-orang cina, viking dan orang-orang kepulauan pasifik juga jauh mendahului beberapa abad sampai di benua Amerika sebelum Columbus. Jadi, secara substantif, pernyataan bahwa Columbus penemu pertama benua Amerika jelas-jelas bohong karena tidak sesuai realitas. Namun karena Amerika dikenal di dunia melalui Columbus, maka Columbus diklaim sebagai penemunya. Lalu apakah hal itu harus tetap dianggap kebohongan ? Mari kita menganggapnya sebagai kurang tepat. Meskipun bohong, bagaimanapun Columbus membuka benua Amerika bagi masyarakat dunia yang lebih luas. Jadi, bolehlah dia di anggap sebagai penemunya.

Bagaimana dengan seseorang penderita penyakit mental, misalnya penderita skizofrenia yang sering mengalami halusinasi, misalnya mengaku memiliki teman-teman yang selalu bermain bersamanya ? Secara riil orang lain akan tahu bahwa si penderita tidak pernah secara nyata memiliki teman-teman bermain. Dia sendirian sepanjang waktu. Namun di benaknya memang benar-benar ada teman-temannya itu. Jadi ia pun menceritakan kalau memiliki teman-teman karena begitulah kenyataan yang diyakininya. Lalu apakah si penderita itu dianggap berbohong? Bagaimanapun, si penderita tidak merasa berbohong ketika menceritakannya karena begitulah realitas yang dialaminya.

Apakah seorang pendongeng akan dianggap berbohong ketika menceritakan sebuah dongeng ? Kita tahu bahwa yang namanya dongeng adalah kejadian rekaan semata. Artinya, dongeng tidak ada dalam realita. Pendengar juga tahu bahwa yang diceritakan fiktif. Pada situasi demikian, sang pendongeng tidak bisa dianggap berbohong. Lain hal jika pendengar tidak tahu yang diceritakan adalah bohong belaka. Pendongeng juga mengklaim bahwa cerita dongeng itu adalah realitas. Pada situasi ini, seorang pendongeng boleh dianggap berbohong.

Beberapa paragraf di atas menunjukkan pada kita, bahwa meskipun sebuah pernyataan tidak benar dan tidak akurat (secara substansial berarti bohong), seseorang yang menyampaikannya tidak selalu dianggap berbohong. Rupa-rupanya berbohong atau tidak dilihat dari motivasinya. Jika seseorang memiliki motivasi untuk berbohong, maka ia berbohong. Jika tidak memiliki motivasi berbohong, meskipun realitasnya bohong, seseorang tidak selalu dianggap berbohong.

Tentang Psikopat

Jika Anda mendengar kata Psikopat, maka apakah yang terlintas di dalam benak Anda ? Jika yang terlintas dalam benak Anda adalah sosok pembunuh berdarah dingin maka cepat-cepatlah buang pemikiran itu jauh-jauh sekarang, mungkin ada benarnya, namun ternyata belum tentu psikopat adalah seorang pembunuh.



Psikopat dalam ilmu psikologi merupakan bentuk gangguan kepribadian, dimana penderita bertendensi narsistis dan juga antisosial. Seorang psikopat tidak pernah mengakui atau merasakan bahwa dirinya sakit atau memiliki gangguan, mereka memiliki kepercayaan diri berlebih (narsistis) sehingga mampu mempengaruhi orang lain, tidak merasa bersalah atau menyesal atas setiap tindakannya karena memiliki rasionalisasi pembenaran terhadap perilakunya.

Korban-korban mereka juga bukanlah orang yang cenderung bodoh, dalam buku without conscience, Robert Hare, seorang yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk studi tentang psikopat, menyebutkan bahwa dirinya yang merupakan seorang psikolog pernah menjadi korban dari teror seorang psikopat saat dirinya sedang bertugas sebagai psikolog di penjara. Hal tersebut dilakukan oleh seorang napi yang menjadi pasiennya.

Kemampuan psikopat dalam memanipulasi korban cenderung sangat lihai dan sulit untuk terdeteksi. Memang ada banyak psikopat yang sudah ditangkap dengan berbagai macam kasus mulai dari pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, penganiayaan, pencurian, kekerasan, dan berbagai bentuk tindak antisosial lainnya, namun diluar sana ternyata  80% psikopat masih beredar bebas dan hidup disekitar kita (sumber: without conscience- Robert Hare).

Para psikopat memang sulit untuk diperkirakan dan juga tidak mudah untuk ditebak tindak-tanduknya, berbeda dengan jenis penyakit kejiwaan lain seperti skizofrenia yang cenderung terlihat dengan jelas ciri-cirinya pada seorang penderita seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami waham, halusinasi. Sedangkan para psikopat, mereka terlihat baik dan normal sehingga mereka dapat diterima oleh masyarakat bahkan hingga dilapisan tingkat sosial yang paling tinggi sekalipun seperti menduduki suatu jabatan penting dalam pemerintahan.

Dalam sebuah Surat kabar online (Tempo Interactive : Psikopat disebabkan Masalah Psikososial dan Biologis) menyebutkan bahwa psikopat disebabkan oleh masalah psikososial dan biologis. Dalam artikel tersebut seorang psikiater, Dr. Limas Sutanto, mengatakan bahwa psikopat merupakan gejala seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Hal ini ditandai dengan adanya keengganan untuk mentaati norma-norma sosial umum yang biasanya ditaati orang dewasa ditengah kehidupan sehari-hari. Penyebab gangguan ada dua yaitu psikososial dan biologis.

Faktor psikososial diantaranya berbentuk rasa takut seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat dengan sesama manusia yang berakibat munculnya perasaan cemas, takut dan khawatir secara berlebihan. Sedangkan dari faktor biologis terjadi karena adanya perubahan pada psikis kimiawi tubuh yang disebabkan oleh ketakutan, rasa cemas, frustasi, pada seseorang. Rasa cemas itu muncul karenanya ada kegagalan dalam struktur kepibadian yang bernama super-ego, katanya.

Namun pendapat bahwa psikopat ditentukan oleh dua faktor yang saling menunjang   kurang disetujui oleh Robert Hare, dimana didalam buku without conscience beliau mengatakan bahwa penyebab dari kemunculan psikopat masih belum bisa diprediksi secara pasti, apakah hal tersebut merupakan pengaruh dari faktor eksternal (kehidupan sosial, lingkungan) ataukah faktor internal (genetik, kerusakan fungsi otak), mungkin juga campuran dari keduanya. Walau kini sudah banyak ahli yang menyetujui (dengan pengamatan yang mendalam tentunya) bahwa faktor eksternal dan internal saling mempengaruhi dalam menjadi penyebab munculnya pribadi psikopat.

Wajar jika seseorang khilaf, melakukan kesalahan dan pelanggaran, lalu setelah itu insyaf, menyadari kesalahannya dan menyesal. Tetapi didalam diri seorang psikopat selalu ditemui khilaf saja tanpa pernah insyaf. Mereka selalu kambuh untuk melakukan kesalahan yang sama dan diulang-ulang tanpa pernah belajar dari apa yang pernah mereka alami. Sebagai contoh kebanyakan dari para residivis kambuhan merupakan individu dengan kepribadian psikopat karena mereka tidak pernah kapok ditangkap serta keluar-masuk penjara.

Psikopat bersikap manipulatif serta penuh dengan daya pikat. Hal ini ditunjang oleh kemampuan mereka dalam menemukan titik lemah dalam kepribadian korbannya, yang dengannya mereka dapat memanipulasi korbannya agar dapat diperlakukan sesuai dengan kehendak mereka. Mereka tidak memiliki empati, buta secara emosi dan hanya mengandalkan pikiran murni. Mereka cacat secara moral, cacat karena tidak memiliki mata hati dan kepekaan dalam emosi.

Dalam hal emosi seorang psikopat diibaratkan seperti manusia yang buta warna sedang mengendarai mobil dijalan dan kemudian bertemu dengan lampu merah, mungkin ia mampu mengetahui dimana letak lampu hijau, kuning atau merah walaupun ia tidak mengetahui apa warnanya. Letak lampu untuk mewakili pikiran dan warna lampu mewakili emosi, dengan kata lain mereka adalah pribadi yang tidak mampu merasakan penderitaan orang lain yang menjadi korbannya. Mereka tidak bisa mencerna nada emosi dalam suatu pembicaraan, sehingga setiap kata apa yang mereka dengar selalu serupa dengan artian kamus yang dangkal.

Seseorang psikopat cenderung sangat sulit untuk bisa disembuhkan bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil untuk bisa dilakukan. Walaupun ada yang pernah memberikan terapi kelompok dalam menyelesaikan masalah ini, ternyata hal tersebut dapat dikatakan sia-sia, bahkan membuat mereka menjadi semakin berbahaya dikarenakan mereka mempelajari trik-trik baru dalam bersosial melalui terapi kelompok yang diberikan.

Yang menjadi kekuatan psikopat terhadap korbannya adalah dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan, entah itu rasa percaya diri, harga diri, dan juga kelemahan-kelemahan lain yang terdapat dalam diri korban, mereka memanfaatkannya untuk dapat mengendalikan korban secara fisik dan mental, sehingga korban merasa hancur dan putus asa dalam menjalani kehidupannya tanpa disadari.

Cara yang terbaik untuk mensikapi hal ini adalah dengan pengenalan diri yang baik pada diri calon korban, ketika seseorang mengetahui apa saja titik lemah yang ada dalam kepribadiannya maka ia dapat mewaspadai setiap usaha psikopat untuk mengambil keuntungan darinya. Mungkin mereka datang dengan berbagai macam cara yang telah mereka manipulasi dan palsukan, namun jika seseorang lebih mengenal siapa dirinya dan ditunjang dengan kekuatan mental yang baik  maka para psikopat tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan terhadap sang calon korban.

Insomnia dan Depresi

Depresi merupakan suatu kondisi medis-psikiatris dan bukan sekedar suatu keadaan sedih atau perasaan yang buruk dalam diri individu, dikatakan sebagai gangguan depresi bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-hari. Beberapa gejala gangguan gepresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, kehilangan minat dan semangat, malas beraktivitas, tidak memiliki motivasi dan mengalami gangguan pola tidur seperti insomnia.

Seperti diketahui bahwa Insomnia adalah gangguan dimana penderitanya memiliki kesulitan untuk memulai tidur atau ketidak-mampuan dalam mempertahankan tidurnya. Insomnia merupakan keluhan gangguan tidur yang paling sering kita dengar entah di majalah, televisi, koran atau bahkan dalam obrolan kita sehari-hari. Secara normal manusia tidur selama 8 jam untuk mengembalikan energi yang telah terkuras seharian, berarti jika seseorang tidur dengan waktu kurang dari itu maka seseorang tersebut tidak mengisi kembali tenaganya dengan penuh, sehingga rutinitas yang dijalani pada siang hari tidak berjalan dengan semestinya.

 
Insomnia selama ini dipercaya sebagai bentuk gangguan yang menyertai depresi dan berbagai macam gangguan lain seperti kecemasan dan stres. Selama ini juga kita percaya bahwa seseorang tidak dapat tertidur pada malam hari disebabkan oleh pikiran mereka yang melayang jauh menerawang pada kekhawatiran tanpa sebab (kecemasan), memikirkan kesedihan, kegagalan dan penyesalan secara berlebihan (depresi), dan ini-itu yang dipikirkan mendalam (stres).

Namun kini ternyata ditemukan bukti penelitian bahwa Insomnia bukan hanya sebagai teman yang muncul bersamaan dengan kecemasan, depresi dan stres, melainkan dimungkinkan bahwa insomnia merupakan penyebab dari depresi itu sendiri. Hal ini diungkapkan oleh penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari North Carolina, Eric Johnson, yang melakukan penelitiannya pada Research Triangle Institute International pada tahun 2006, Ia menemukan dalam penelitiannya bahwa setengah dari remaja yang pernah mengalami gangguan Insomnia didapati mengembangkan gangguan psikiatris. Diantara itu semua, mereka yang mengalami Insomnia dan depresi, ditemukan bahwa 69% dari kasus depresi diawali dengan insomnia sebelumnya.

Michael Perlis, peneliti tentang insomnia dari Universitas Rochester memiliki pendapat bahwa walau penyebab paling mendasar dari insomnia dan depresi masih belum jelas, namun suatu teori tentang neurotransmiter dapat menjelaskan mengapa Insomnia mengawali depresi. Mengacu pada serotonin, sebuah hormon didalam otak manusia dimana fungsinya membantu dalam pengaturan Mood dan waktu tidur, serta berhubungan dengan suhu tubuh, nafsu makan dan berbagai macam fungsi lain. Dimana ketika seseorang berada pada kadar serotonin yang meningkat maka akan merasakan kantuk, kebalikannya ketika kadarnya menurun pada waktu yang cukup panjang maka seseorang mengalami gejala Insomnia. Selain itu juga kadar serotonin yang rendah merupakan pemicu terjadinya depresi.

Pendapat tentang insomnia sebagai penyebab depresi masih banyak ditentang oleh beberapa kalangan, dengan mengatakan bahwa asal mula dari Insomnia dan depresi sebenarnya berasal dari kecemasan yang mana memungkinkan insomnia untuk muncul terlebih dahulu sebelum depresi, mengingat depresi sendiri membutuhkan waktu untuk berkembang. Perdebatan dan penelitian akan terus berlanjut seperti menebak mana yang lebih dahulu ada antara ayam dan telur. Namun keterkaitan antara insomnia dan depresi sendiri jelas tidak tersangkalkan.

Berpegang pada bukti yang diperoleh tentang tidur, dimana tidur yang bermasalah jika berlangsung secara terus menerus dapat menumbuh-kembangkan gangguan depresi, dan juga kebalikannya tidur secara teratur dan cukup dapat melawan kemungkinan seseorang untuk mengalami gangguan mood. Selain itu juga insomnia lebih mudah untuk dihilangkan daripada merawat depresi, dengan demikian maka dengan berusaha untuk tidur secara teratur dapat menjadikan kita untuk lebih terhindar dari berbagai macam gangguan lain.

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari kesulitan tidur:
1. Menghindari kopi (kafein) sebelum waktu tidur.
2. Menghindari rokok sebelum waktu tidur.
3. Berolahraga secara teratur.
4. Mengatur waktu tidur.
5. Tidak mengkonsumsi alkohol sebelum tidur.
6. Mengurangi tidur siang.
7. Mereduksi kecemasan dengan beragai cara seperti relaksasi.
8. Tidak hanya diam saat anda tidak dapat tidur, seperti membaca buku, mendengarkan musik, menonton televisi.
9. Tidurlah sampai matahari terbit, diakarenakan berdasar pada ritme arcardian tubuh bereaksi terhadap cahaya terang.
10. Jika terjadi secara terus menerus maka hubungilah dokter atau ahli kesehatan kepercayaan Anda.



Melakukan tindakan sebelum berkembangnya gangguan tidur seperti insomnia yang bersifat kronis, yang juga dapat menujukan pada keadaan depresif, maka mengambil tindakan lebih awal dalam mengatur irama tidur adalah penting untuk dilakukan, mengingat kembali bahwa menangani gangguan tidur adalah lebih mudah daripada menangani gangguan depresi. Seperti dilaporkan, tentang perkembangan gejala depresi adalah terjadinya perubahan dalam mood, perubahan dalam perhatian dan yang terakhir adalah perubahan dalam pola tidur. Dengan demikian dengan berusaha selalu untuk mendapatkan tidur berkualitas pada setiap malam secara teratur dapat membantu kita menjadi manusia yang baik dalam beraktifitas dikeseharian, secara optimal dan sehat baik itu secara fisik maupun psikologis.

Rabu, 12 Juni 2013

Paranoid !

Kepribadian merupakan kata yang menunjukkan pola berperilaku yang menetap pada diri seseorang dan juga cara diri seseorang tersebut dalam merasakan sesuatu. Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain, dikatakan bukan sebagai sesuatu yang bersifat patologis jika terkadang suatu model kepribadian tertentu menciptakan suatu masalah interperseonal dengan orang lain, hal tersebut hanyalah sebuah benturan kecil dari perbedaan tersebut.

Lain halnya dengan gangguan Kepribadian yang dimana merupakan pola kronis dari perasaan dan tingkah laku yang mana secara mencolok menyimpang dari kebiasaan dan harapan yang berlaku dalam kehidupannya entah norma secara kelompok atau pribadi. Mereka yang mengalami gangguan kepribadian cenderung akan berperilaku kaku, tidak fleksibel dan maladaptif, serta mengarahkan penderita pada hilangnya fungsi mental seperti terjadinya perasaan kalut dan kesedihan yang bersifat merusak di dalam diri penderita.

Definisi Gangguan Kepribadian Paranoid

Terdapat banyak jenis gangguan kepribadian yang dapat menyerang mental seseorang, salah satunya adalah gangguan kepribadian paranoid, yang mana berbentuk kesalahan dalam mengartikan perilaku orang lain sebagai suatu hal yang bertujuan menyerang atau merendahkan dirinya. Gangguan biasa muncul pada masa dewasa awal yang mana merupakan manifestasi dari rasa tidak percaya dan kecurigaan yang tidak tepat terhadap orang lain sehingga menghasilkan kesalahpahaman atas tindakan orang lain sebagai sesuatu yang akan merugikan dirinya.



Para penderita gangguan kepribadian paranoid cenderung tidak memiliki kemampuan untuk menyatakan perasaan negatif yang mereka miliki terhadap orang lain, selain itu mereka pada umumnya juga tidak kehilangan hubungan dengan dunia nyata, dengan kata lain berada dalam kesadaran saat mengalami kecurigaan yang mereka alami walau secara berlebihan. Penderita akan merasa sangat tidak nyaman untuk berada bersama orang lain, walaupun di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang hangat dan ramah. Dimana dan bersama siapa saja mereka akan memiliki perasaan ketakutan akan dikhianati dan dimanfaatkan oleh orang lain.

Gejala

Beberapa gejala yang ditunjukan dalam gangguan kepribadian paranoid antara lain adalah:

1. Kecurigaan yang sangat berlebihan.

2. Meyakini akan adanya motif-motif tersembunyi dari orang lain.

3. Merasa akan dimanfaatkan atau dikhianati oleh orang lain.

4. Ketidakmampuan dalam melakukan kerjasama dengan orang lain.

5. Isolasi sosial.

6. Gambaran yang buruk mengenai diri sendiri.

7. Sikap tidak terpengaruh.

8. Rasa permusuhan.

9. Secara terus menerus menanggung dendam yaitu dengan tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian.

10. Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah dan balas menyerang.

11. Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan digunakan secara jahat untuk melawan dirinya.

12. Kurang memiliki rasa humor.

Mereka yang memiliki gangguan ini menunjukan kebutuhan yang tinggi terhadap mencukupi dirinya, terkesan kaku dan bahkan memberikan tuduhan kepada orang lain. Dikarenakan perilaku menghindar mereka terhadap kedekatan dengan orang lain menjadikan mereka terlihat sangat penuh perhitungan dalam bertindak dan juga berkesan dingin. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kebanyakan gangguan ini ditemukan pada pria dibandingkan pada perempuan.

Penyebab

Secara spesifik penyebab dari munculnya gangguan ini masih belum diketahui, namun seringkali dalam suatu kasus  muncul pada individu yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia, dengan kata lain faktor genetik masih mempengaruhi. Gangguan kepribadian paranoid juga dapat disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang buruk ditambah dengan keadaan lingkungan yang dirasa mengancam. Pola asuh dari orang tua yang cenderung tidak menumbuhkan rasa percaya antara anak dengan orang lain juga dapat menjadi penyebab dari berkembangnya gangguan ini.

Selasa, 11 Juni 2013

Stalking

Stalking adalah kata yang digunakan dalam menunjuk pada suatu perhatian yang tidak diharapkan dari seseorang atau mungkin sekelompok orang terhadap orang lain. Dalam dunia psikologi sendiri kata stalking digunakan untuk mendefinisikan suatu bentuk perilaku yang cenderung bersifat gangguan, hal ini juga digunakan pada bidang hukum dimana stalking didefinisikan sebagai salah satu bentuk tindakan kriminal. Pada awalnya Stalking digunakan dalam mengartikan tindakan mengganggu yang didapati oleh para orang terkenal, seperti selebritis, dari seseorang yang tidak ia kenal dimana orang tersebut yang mana para pelakunya telah memiliki suatu bentuk obsesi tersendiri kepada para korbannya. Hal ini pertama kali digunakan dalam sebuah tabloid di Amerika.



Dalam bidang psikologi dan psikiatri sendiri stalking diartikan oleh Meloy (1998) dan juga Stieger, Burger dan Schild (2008), yang mana oleh mereka suatu perilaku dapat dikategorikan sebagai stalking jika korban melaporkan sekurang-kurangnya 2 bentuk perilaku yang bersifat mengganggu dimana waktu kejadiannya terjadi kurang dari 2 minggu dan selalu memberikan rasa takut kepada korbannya.

Ranah Perilaku

Stalking telah diterapkan kedalam banyak bentuk dari perilaku, yang juga didasari oleh berbagai macam motif. Obsesi adalah dasar dari perilaku stalking, dimana sang pelaku akan melakukan observasi dan juga melakukan kontak dengan korbannya semua ini bertujuan untuk memenuhi keinginannya untuk memiliki kedekatan dengan korban. Tidak jarang juga bahwa para stalker mengikuti korban sampai ketempat mereka beraktifitas dan sampai ketempat mereka tinggal, juga mereka tertarik terhadap informasi-informasi yang bersifat personal dari korbannya seperti nomor telepon, alamat email, ukuran pakaian, nama lengkap dan lain-lain yang cenderung bersifat privasi. dimana mereka juga berusaha mencari informasi tentang jati diri korban melalui berbagai macam hal seperti internet, arsip personal, atau media lain yang mengandung informasi tentang diri korban, bahkan ada yang sampai mendekati orang-orang terdekat dari korban untuk memperoleh hal tersebut yang jelas dilakukan tanpa ijin.

Karakteristik diri seorang stalker cenderung memiliki kepercayaan yang salah didalam dirinya, terkadang kepercayaan salah itu berbentuk bahwa orang yang menjadi targetnya memiliki rasa cinta kepada sang stalker. Dasar ini muncul dari kecenderungan Erotomania (suatu bentuk gangguan kepribadian dimana penderitanya yakin bahwa seseorang yang lebih tinggi status sosialnya mencintai dirinya, dan hal ini biasa ditemukan pada pria) yang dimiliki pada seorang stalker. Selain itu perilakunya juga didasari oleh keinginan sang stalker untuk menolong korbannya dari sesuatu, padahal jelas bahwa orang tersebut tidaklah memerlukan pertolongan. Sehingga stalking juga dapat dikemas dalam suatu tindakan yang bersifat legal seperti menelepon, mengirimkan hadiah atau mengirimkan surat dan email. Namun semua itu datang dari orang yang tidak diharapkan dan malahan menimbulkan gangguan dan ketidak-nyamanan, karena sang korban tidak mengerti apa maksud dan tujuan dari para stalker yang berperilaku berlebihan itu.

Perilaku merugikan sang korban seperti fitnah dan mencemarkan nama baik korban seringkali ditemui dalam suatu kasus, hal ini merupakan suatu cara bagi stalker untuk dapat berperilaku kejam yang merupakan hasrat mereka kepada para korbannya, dilakukan tanpa empati, seperti merasakan apa kira-kira yang dirasakan orang lain dari apa yang telah ia lakukan terhadapnya, tidak ada rasa empati pada diri seorang stalker, mereka cacat dalam hal tersebut, membuat mereka menjadi lebih sadis, seperti dikatakan oleh Dr. Meloy (1998), bahwa setiap stalker adalah psikopat, yaitu pribadi yang tidak memiliki hati nurani dan memiliki tingkat narsisis yang terlampau tinggi. Selain itu perilaku sadis yang mereka tunjukkan mendapat dorongan dari dalam pikiran mereka yang telah mengalami berbagai macam waham, dan biasanya daripadanya mereka mendapat kesimpulan bahwa diri korban memang pantas diperlakukan dengan cara yang demikian.

Stalker memandang para korbannya buruk dan lemah sehingga dari kepercayaan sesat itu mereka merasa pantas untuk memperlakukan para korbannya dengan buruk atau bahkan berperilaku seperti ingin menolong mereka. Hal ini semakin mendorong waham didalam pikiran mereka untuk dapat memperlakukan sang korban dengan layaknya apa yang mereka delusikan seperti untuk disakiti atau untuk ditolong. Jika mereka menebar fitnah dan juga menyebarkan kejelekan karakter dari sang korban, hal tersebut akan dapat mengisolasi kehidupan sang korban yang pada akhirnya akan menimbulkan perasaan akan kekuasaan bagi stalker dan kendali lebih atas diri korban. Adapun kiranya para stalker melakukan diagnosa terhadap sang korban terhadap dengan kesimpulan bahwa sang korban memiliki suatu gangguan mental tertentu yang menyebabkan dirinya perlu ditolong atau mungkin perlu disakiti, kepercayaan ini sangat absolut didalam diri stalker yang mengakibatkan korban merasa sangat tertekan.

Perilaku manipulatif adalah senjata bagi stalker, tindakan yang bersifat legal namun penuh dengan gangguan adalah salah satu cara dari sikap manipulatif yang mereka miliki. Akan lebih berbahaya jika korban sampai termakan oleh perilaku manipulatif mereka karena seorang stalker menginginkan suatu hal yang cenderung tidak rasional bagi korbannya. Bahkan demi mendapat perhatian dari korbannya tidak jarang ada bentuk perilaku stalker yang sampai mengancam akan melakukan bunuh diri jika tuntutannya tidak dipenuhi. Semua ditujukan agar sang korban mau membuka hubungan dengan dirinya. Bentuk-bentuk ancaman dan kekerasan seperti perusakan barang-barang korban sering kali ditemui dalam kasus-kasus perilaku stalking. setelah menakut-nakuti korban, bentuk kejahatan biasanya berlanjut kepada perilaku kekerasan seksual dan juga penyerangan secara fisik yang dari keduanya dapat menimbulkan bekas yang serius pada jiwa dan raga korban.

Senin, 10 Juni 2013

Astral Projection : Pengalaman keluar dari tubuh (out-of-body experience)

Mungkin Anda pernah mendengar berita adanya orang yang mengaku bisa keluar dari tubuhnya sendiri. Mereka merasa dirinya melayang-layang di udara dan melihat tubuhnya sendiri yang sedang terbaring di tempat tidur. Kadang bahkan ada yang melaporkan berada disebuah tempat yang berbeda dengan tempat tubuh fisiknya berada. Mereka mengaku pergi ke dan melihat tempat X, padahal tubuh fisiknya ada di tempat Y.

Pengalaman keluar dari tubuh (out-of-body experience) dikategorikan sebagai fenomena psi. Hanya saja, hal tersebut belum menjadi kajian utama dalam parapsikologi sampai saat ini. Bahkan banyak psikolog mengklaim bahwa pengalaman keluar tubuh itu bukanlah fenomena psi. Hal tersebut hanyalah salah satu bentuk halusinasi belaka.


Pengalaman keluar tubuh bisa dibedakan setidaknya dalam dua kategori besar, yakni eksomatik (Anda melihat tubuh Anda sendiri) dan asomatik (Anda merasa diri Anda tanpa tubuh, dan merasa bahwa tubuh fisik Anda sama sekali tak berdaya untuk melihat atau mendengar apapun yang biasanya bisa dlihat dan didengar). Keduanya umum dilaporkan orang.

Terkait pengalaman keluar dari tubuh, ada konsep yang disebut tubuh astral, yakni replika diri yang dapat memisahkan diri dari tubuh fisik secara temporer. Seolah-olah, tubuh astral adalah jiwa yang memberi kehidupan kepada tubuh fisik. Oleh karena itu jika tubuh astral memisahkan diri dari tubuh fisik secara permanen, maka disebut kematian.

Selain tubuh astral ada juga konsep doppelganger, yakni kembaran yang mendampingi hidup seseorang.

Minggu, 09 Juni 2013

Psikologi Transpersonal

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.



Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.

Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak. dengan kata lain psikologi transpersonal memandang kita sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia dan bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spriritual.

Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.

Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia, dengan ini maka era milennium ini yang disebut-sebut sebagai era aquarian benar-benar telah terwujud.