Minggu, 30 Juni 2013

Psikologi Positif

Psikologi yang berkembang dewasa ini dapat disebut sebagai psikologi "negatif", karena berkutat pada sisi-negatif manusia. Psikologi, karena itu, paling banter hanya menawarkan terapi atas masalah-masalah kejiwaan. Padahal, manusia tidak hanya ingin terbebas dari problem, tetapi juga mendambakan kebahagiaan. Adakah psikologi jenis lain yang menjawab harapan ini ?

Martin Seligman, seorang psikolog pakar studi optimisme, memelopori revolusi dalam bidang psikologi melalui gerakan Psikologi Positif. Berlawanan dengan psikologi negatif, sains baru ini mengarahkan perhatiannya pada sisi-positif manusia, mengembangkan potensi-potensi kekuatan dan kebajikan sehingga membuahkan kebahagiaan yang autentik dan berkelanjutan.

Dalam buku revolusioner yang ditulis dengan gaya populer ini, Seligman memperkenalkan prinsip-prinsip dasar Psikologi Positif, ciri-ciri kebahagiaan yang autentik, dan faktor-faktor pendukungnya. Dengan metode-metode praktis yang dirumuskannya, Anda dapat memanfatkan temuan-temuan terbaru dari sains kebahagiaan untuk mengukur dan mengembangkan kebahagiaan dalam hidup Anda.


Psikologi positif adalah cabang baru psikologi yang bertujuan diringkas pada tahun 2000 oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi "Kami percaya bahwa psikologi positif akan muncul fungsi manusia yang mencapai pemahaman ilmiah dan efektif untuk membangun berkembang dalam individu, keluarga, dan masyarakat. Psikologi positif mencari" untuk mencari dan membina jenius dan bakat ", dan" untuk membuat kehidupan normal lebih memuaskan ", tidak hanya untuk mengobati penyakit mental. Pendekatan ini telah menciptakan banyak menarik di sekitar subjek, dan pada tahun 2006 studi di Universitas Harvard yang berjudul "Psikologi Positif" menjadi kursus semester yang paling populer semester.

Beberapa Psikolog Humanistik, seperti Abraham Maslow, Carl Rogers, dan Erick Fromm mengembangnak teori dan praktek yang melibatkan kebahagiaan manusia. Baru-baru ini teori yang dikembangkan oleh para psikolog humanistik ini telah menemukan dukungan empiris dari studi oleh para psikolog positif, meskipun penelitian ini telah banyak dikritik. Teori ini lebih berfokus pada kepuasan dengan sumber filosofismenya keagamaan dan psikologi humanistic.

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dan selama ini yang kita ketahui, bidang psikologi selalu menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan jiwa seseorang, misalnya penyebab orang mengalami gangguan jiwa, mengapa orang bisa mengalami stress, dan lain-lain. Yang selalu berhubungan dengan sisi negatif seseorang.

Tetapi selami ini kita mengenal yang nama nya psikologi positif, yaitu lebih menekankan apa yang benar/baik pada seseorang, dibandingkan apa yang salah/buruk. Sebelumnya, psikologi biasanya selalu menekankan apa yang salah pada manusia, seperti soalan stress, depresi, kegelisahan dan lain lain.

Itulah sebabnya, ada aliran baru dalam dunia psikologi, dan menyebutnya sebagai psikologi positif. Menurut Seligman, “Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita.” Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.

Berfokus terhadap penanganan berbagai masalah bukanlah hal baru dalam dunia psikologi. Sejak dulu, manusia selalu dipandang sebagai makhluk yang bermasalah. Sejak awal mula munculnya aliran psikologi (mashab behaviorisme), manusia dipandang sebagai suatu mekanik yang penuh dengan banyak masalah. Mashab ini kemudian melihat masalah yang ada pada manusia, belum lagi dengan mashab psikoanalisis yang melihat kenangan masa lalu sebagai penyebab penderitaan yang ada saat ini. Apapun itu, psikologi yang berkembang selama bertahun-tahun lamanya lebih memedulikan kekurangan ketimbang kelebihan yang ada pada manusia. Itulah sebabnya psikologi yang berkutat pada masalah sering disebut sebagai psikologi negatif.


Psikologi positif berhubungan dengan penggalian emosi positif, seperti bahagia, kebaikan, humor, cinta, optimis, baik hati, dan sebagainya. Sebelumnya, psikologi lebih banyak membahas hal-hal patologis dan gangguan-gangguan jiwa juga emosi negatif, seperti marah, benci, jijik, cemburu dan sebagainya. Dalam Richard S. Lazarus, disebutkan bahwa emosi positif biasanya diabaikan atau tidak ditekankan, hal ini tidak jelas kenapa demikian. Kemungkinan besar hal ini karena emosi negatif jauh lebih tampak dan memiliki pengaruh yang kuat pada adaptasi dan rasa nyaman yang subyektif dibanding melakukan emosi positif. Contohnya, pada saat kita marah, maka ada rasa nyaman yang terlampiaskan, rasa superior, dan sebagainya. Ada suatu penelitian mengatakan bahwa marah adalah emosi yang dipelajari, sehingga dia akan cenderung untuk mengulangi hal yang dirasa nyaman.

Psikologi positif tidak bermaksud mengganti atau menghilangkan penderitaan, kelemahan atau gangguan (jiwa), tapi lebih kepada menambah khasanah atau memperkaya, serta untuk memahami secara ilmiah tentang pengalaman manusia.

Jadi intinya saat ini kita sudah mengenal yang nama nya psikologi positif, ada baiknya kita merubah diri kita sedikit demi sedikit. Sebisa mungkin kita lebih mengeluarkan emosi positif kita dibandingkan emosi negatif kita. Maka hasilnya pun akan positif

Jumat, 28 Juni 2013

Gangguan Kepribadian : Narsisme

Narsistik berasal dari sebuah mitologi Yunani, Narcissus yang begitu bangga akan ketampanan dirinya. Suatu hari, ia berjalan-jalan ke dalam hutan dan bertemu dengan peri bernama Echo. Tertarik dengan ketampanan Narcissus, Echo menyatakan cinta, namun ditolak. Penolakan ini menyakiti hati Echo, dan membuat ia menangis. Aphrodite, dewi Cinta, mengetahui hal ini dan berusaha membalas Narcissus. Kala Narcissus minum di sebuah sungai, Aphrodite meminta Cupid untuk memanahnya dengan panah cinta. Narcissus pun jatuh cinta pada bayangannya di sungai. Ia mati dengan memandang bayangannya sendiri.


 Gangguan kepribadian narsistik tidak sama dengan percaya diri atau memiliki harga diri yang tinggi. Mereka yang menderita narsistik, memandang tinggi dirinya. Sedangkan orang yang sehat, tidak memandang diri mereka lebih dari yang dinilai orang lain.

Menurut psikoanalisa, gangguan ini muncul karena orangtua kurang menghargai apa yang dilakukan oleh anak dan cenderung menceritakan apa yang telah dicapai orangtua. Misal, bila anak bercerita tentang keberhasilannya mendapat peringkat satu di sekolah, namun orangtua tidak mengapresiasi dan menceritakan apa yang terjadi di kantor.

Terdapat berbagai faktor penyebab seseorang cenderung menjadi narsis. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah faktor keturunan dan faktor persekitaran. Narsis biasanya timbul akibat daripada pujian dan penghormatan yang diterima berulang kali daripada individu lain. Sebagai contoh, seseorang akan berasa dirinya cantik karena acapkali menerima pujian bahawa dirinya cantik meskipun pada awalnya dia tidak merasa dirinya sedemikian. Narsis tidak hanya termanifestasi pada perilaku yang gemar memuji dirinya sendiri, kerap menghadap cermin atau kerap bergaya persis model, tetapi juga terdapat implikasi lain daripada sikap narsis itu sendiri.

Menurut Hidayat (2004), narsisme merupakan gangguan kepribadian dan merupakan gangguan jiwa yang mempunyai prevalensi cukup tinggi, yaitu 5%-15% dan termasuk yang tidak mudah diobati. Penyebabnya diduga karena keturunan atau genetik (dijelaskan melalui penelitian terhadap 15.000 pasangan kembar, satu dan dua telur), temperamental (terkait dengan genetik atau keturunan, dapat diidentifikasi sejak masa kanak-kanak), biologik (hormon, neurotransmitter tertentu) dan psikodinamik (berbagai faktor psikologis).

Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, bilang ada lima penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu adanya kecenderungan mengharapkan perlakuan khusus, kurang bisa berempati sama orang lain, sulit memberikan kasih sayang, belum punya kontrol moral yang kuat, dan kurang rasional. Kedua aspek terakhir inilah yang paling kuat memicu narsisme yang berefek gawat.

Sedangkan tanda-tanda narsis dari Diagnostics and Statistics Manual, Fourth Edition-Text Revision (2000) yang harus kita waspadai untuk tahu apakah kita mengidap narsis atau tidak. Orang narsis merasa dirinya sangat penting dan ingin sekali dikenal oleh orang lain karena kelebihannya. Pengidap narsis juga yakin kalau dirinya unik dan istimewa. Pokoknya tidak ada yang bisa menyamai dirinya. Sisi sering dianggap teman- temannya suka memuji-muji diri sendiri. Gejala lain, mereka selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang sensitif terhadap kebutuhan orang lain karena yang ada dalam pikirannya cuma diri sendiri. Ditambah lagi, adanya rasa percaya orang lain itu berpikiran sama dengan dirinya. Orang narsis juga sensitif sekali kalau dikritik. Kritikan kecil bisa berarti sangat besar buat mereka.

Dalam kajian psikologi, secara umum ciri-ciri orang-orang narsistik yaitu antara lain
  • Superior. Superior atau paling hebat tetapi tanpa upaya yang sepadan dengan cita-cita atau kepentingannya itu,
  • Tak berempati, tidak mampu mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain,
  • Iri, sering merasa iri dengan orang lain atau yakin bahwa orang lain iri pada dirinya,
  • Fantasi, dipenuhi dengan fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kepintaran, kecantikan atau cinta sejati,
  • Istimewa, mengganggap diri istimewa dan selalu meminta perlakuan khusus dari orang-orang yang berada disekitanya, meskipun itu merugikan orang lain,
  • Sombong dan congkak, karena merasa dirinya yang paling hebat maka tidak jarang memperlihatkan perilaku atau sikap yang congkak dan sombong.

Kamis, 27 Juni 2013

Sarlito Wirawan Sarwono : AKHIRNYA BBM NAIK JUGA

Tetapi sudah berapa korbannya ? Di Medan outlet KFC, yang sama sekali gak ada urusannya dengan BBM, dirusak massa, pengunjung ketakutan, pemilik dan pegawai dirugikan. Padahal mereka semua itu rakyat belaka. Di Jambi seorang jurnalis yang sedang meliput demo terkena selongsung peluru gas air mata, pas dimukanya. Di Makasar pendemo bentrok dengan warga, padahal jurnalis dan warga itu ya rakyat juga yang katanya sedang dibela oleh mahasiswa.


Belum lagi kerugian yang ditimbulkan oleh kemacetan yang berjam-jam sebagai akibat jalan diblokir massa, dan kerusuhan-keruruhan ini bukan terjadi sekali-dua-kali melainkan berkali-kali, berulang-ulang, selama hampir setahun ini. Senior saya, yang guru besar psikologi juga, pernah terkena gas air mata seluruh wajahnya, gara-gara beliau membuka pintu mobilnya, mau pulang setelah demo reda, padahal mobil itu sudah penuh dengan gas air mata dari sebuah peluru gas yang kebetulan menembus kaca belakang mobilnya. Korban yang sangat sia-sia yang ditimbulkan oleh orang-orang yang bernafsu demo (tidak ada isyu BBMpun mereka berdemo).

Yang lebih dirugikan lagi adalah para nelayan, para sopir truk, dan operator-operator pabrik yang pekerjaannya sangat tergantung pada premium dan solar. Tidak ada solar, nelayan tidak bisa melaut, sopir truk harus antri berjam-jam menghabiskan uang makannya, dan pabrik-pabrik berhenti beroperasi, yang menyebabkan para pekerja pabrik tidak bisa bekerja, dan tidak ada penghasilan untuk anak-isterinya. Sementara itu bensin dan solar ditimbun oleh para penimbun yang ingin cari untung buat diri sendiri. Sekarang ditimbun dulu, nanti kalau sudah naik, baru dijual dengan untung yang berlipat ganda. Karena harga BBM tidak kunjung naik, maka BBM terus ditimbun. Kalaupun sempat dilepas, karena sepertinya harga BBM tidak jadi naik, begitu ada isyu naik lagi, ditimbun lagi.

Lain halnya dengan rakyat, yang katanya dibela oleh pendemo, yang tinggal di daerah-daerah yang jauh dari jalur distribusi BBM seperti pulau-pulau terluar, atau desa-desa di Papua yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat-pesawat terbang missionary, buat mereka harga BBM naik atau tidak, mereka harus membeli BBM dengan harga yang berkali-kali lipat. Itupun kalau barangnya ada.

Padahal ketika jaman Pak Harto, kenaikan harga BBM diumumkan di TV jam 21.00, jam 24.00 atau jam 00.00 langsung harga sudah naik. Tidak ada demo, apalagi korban gas air mata atau perusakan fasilitas umum. Paling-paling orang-orang mengantri menjelang tengah malam untuk membeli bensin atau solar dengan harga lama pada beberapa jam terkahir sebelum harga naik. Saya tidak pernah melakukan itu, karena saya hitung-hitung keuntungan beberapa rupiah dari membeli bensiun dengan harga lama itu, tidak sebanding dengan waktu saya untuk mengantri di pompa bensin. Tetapi hal seperti inilah yang menyebabkan ada sementara orang yang mengedarkan liwat twitter, bahkan ada yang sudah membuatnya sebagai motif kaos, gambar Pak Harto sedang tersenyum, dengan tulisan “Piye kabare, rak enak jamanku to?” (Apa kabar, enakan jaman saya, kan?)

Sebagai seorang militer pak Harto paham benar dengan yang disebut strategi pendadakan. Serangan dilakukan sebelum lawan siaga, tidak boleh ada kebocoran, dan lawan betul-betul dibuat tidak berkutik, karena memang tidak menduga adanya serangan. Strategi ini digunakan juga oleh Pak Harto dalam mengumumkan kenaikan harga BBM. Masyarakat tidak berkutik, tinggal nurut saja.

Startegi ini juga sesuai dengan teori psikologi massa. Massa itu rata-rata malas berpikir. Apa yang ada ya diikuti saja. Persis seperti rombongan bebek yang mengikuti saja bebek yang paling depan, yang disebut Sontoloyo, dan si Sontoloyo ini hanya mengikuti umbul-umbul pada tongkat panjang yang diacungkan oleh si penggembala itik dari belakang barisan bebek. Karena itu bebek-bebek itu bisa berbaris rapi. Tetapi begitu sampai ke tujuan penggembalaan (biasanya sawah yang baru selesai dipanen) si penggembala membiarkan itik-itiknya mencari makan sendiri-sendiri. Berpencaranlah bebek itu sambil bertelur. Si penggembala dengan senang memanen telur-telur itu.


Begitu juga halnya dengan massa rakyat Indonesia, Kalau didadak saja kenaikan BBM, hampir seluruh rakyat akan ikut saja. Paling-paling beberapa orang yang tidak senang saja akan ngomel di TV, tetapi sebentar saja akan berlalu. Pasti omelannya tertutup dengan isyu-isyu lain yang lebih seru seperti “dagang daging sapi”, atau kasus “Cebongan”.

Tetapi pendekatan pemerintah SBY lain sekali. Walaupun sudah berkali-kali ditegaskan oleh pemerintah sendiri, bahkan oleh anggota DPR, bahwa kenaikan harga BBM adalah wewenang pemerintah, tidak perlu konsultasi dulu dengan DPR, dengan alasan sosialisasi atau demokrasi rakyat diajak diskusi dulu. Di sinilah kesalahan fatalnya. 

Alasan-alasan pemerintah memang sangat masuk akal: pemanfaat subsidi adalah pemilik-pemilik mobil pribadi yang sebetulnya tidak memerlukan subsidi itu, APBN bisa jebol karena harus membayar subsidi BBM, lebih baik dana subsidi itu untuk membangun infrastruktur dan lainnya. Tetapi alasan-alasan itu untuk massa tidak penting. Alih-alih ditanggapi dengan baik, dengan adu argumentasi yang benar-benar rasional, reaksi yang timbul hanya “Tolak kenaikan harga BBM!” Titik! Dikipasi oleh Media Massa, nafsu amarah massa makin berkobar, dan kalau massa sudah marah, sulit sekali dikendalikan. Apalagi Polisipun di lapangan tidak berani tegas. Alih-alih mencegah demo, malah membiarkan sehingga berakhir anarkis.

Sosialisasi dan demokrasi sebetulnya bagus-bagus saja, tidak ada salahnya. Tetapi dalam teori kepemimpinan ada dalil yang menyatakan bahwa pemimpin berbeda dengan manajer. Seorang manajer sejauh mungkin harus mengikuti peraturan dan prosedur yang baku, agar semua berjalan baik, tertata rapi sesusai aturan. Sementara seorang pemimpin justru kadang-kadang harus berani keputusan terobosan yang cepat dan tegas yang mungkin melanggar aturan. Pokoknya tujuan tercapai. Masalah kita saat ini adalah bahwa Presiden yang seharusnya berperan sebagai pemimpin, lebih memilih untuk berperan sebagai manajer.

Rabu, 26 Juni 2013

Pengendalian Diri Bagi Remaja

Perubahan-perubahan sosial yang cepat (rapid sosial change) sebagai konsekuensi modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan teknologi telah mempengaruhi perilaku, nilai-nilai moral, etika, dan gaya hidup (value sistem and way of life).


Keberadaan hawa nafsu disamping memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, juga dapat melahirkan madlarat (ketidaknyamanan, atau kekacauan dalam kehidupan, baik personal maupun sosial). Kondisi ini terjadi apabila hawa nafsu tidak dikendalikan atau dikontrol, karena memang sifat yang melekat pada hawa nafsu adalah mendorong (memprovokasi) manusia kepada keburukan atau kejahatan (dalam Psikologi Belajar Agama, 2003).

Menurut Fachrurozi (dalam Jawa Pos, 2004) kegilaan masyarakat saat ini adalah personifikasi atas kegilaan yang dialami sebagai implikasi dari modernitas, bahwa modernitas, disamping melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek (teknologi informasi, ekonomi, politik, sosial, dan budaya), ternyata juga melahirkan kegilaan atau gangguan kejiwaan. Diharapkan setiap individu mampu mengontrol diri terhadap setiap perubahan yang terjadi.

Tindakan-tindakan tidak terkontrol sering dikaitkan dengan remaja, karena seringkali bentuk perkelahian dilakukan oleh para remaja, sehingga perkelahian antar remaja sudah menjadi fenomena yang biasa di masyarakat luas terutama di kota-kota besar, perkelahian ini biasanya dipicu oleh masalah-masalah yang sepele, seperti bersenggolan di jalan, atau saling pandang yang ditafsirkan sebagai bentuk menantang, dan biasanya berakhir dengan perkelahian, perkelahian antar remaja pada awalnya hanya melibatkan dua individu kemudian berkembang menjadi perkelahian antar kelompok.

Menurut Lewin (dalam Winarno, 2003) kondisi tersebut dikarenakan dalam kelompok terdapat sifat interdependen antar anggota dan kondisi seperti itu berpeluang menjadi konflik SARA, dikarenakan Indonesia terdiri berbagai macam suku, agama, ras, yang berbeda-beda, sehingga individu akan merasa cemas, tidak aman, dan mudah tersulut emosi bila kontrol diri individu kurang. Oleh karena itu, kontrol diri diperlukan untuk mengontrol emosi yamg berasal dari dalam dan luar individu sebagai bentuk sosialisasi yang wajar.

Menurut Drever, kontrol diri adalah kontrol atau pengendalian yang dijalankan oleh individu terhadap perasaan-perasaan, gerakan-gerakan hati, tindakan-tindakan sendiri, sedangkan Goleman (dalam Sarah, 1998) mengartikan bahwa kontrol diri sebagai kemampuan untuk menyesuaikan dan mengendalikan dengan pola sesuai dengan usia. Bander (dalam Sarah, 1998) menyatakan bahwa kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan tindakan yang ditandai dengan kemampuan dalam merencanakan hidup, maupun frustasi-frustasi dan mampu menahan ledakan emosi. Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri, akan tetapi tidak semua remaja mudah tersulut emosinya atau tidak mampu untuk mengkontrol dirinya, pada remaja tertentu juga sudah matang dalam artian mampu mengkontrol setiap tindakan yang dilakukannya.

Selasa, 25 Juni 2013

Bagaimana Hubungan Emosi Dan Otak ?

Bagian otak yang bertanggung jawab terhadap emosi adalah bagian yang disebut sistem limbik. Adapun struktur otak yang berperan adalah hippocampus, cingulate gyrus, rhinal cortex, amygdala, dan orbitofrontal cortex. Disanalah emosi diatur. Mulai dari menerima informasi tentang situasi, memunculkan adanya perasaan tertentu, sampai membangkitkan reaksi fisiologis.
 
 
Jaak Pankseep, seorang peneliti emosi terkemuka, mengemukakan adanya aliran perintah emosi di dalam otak. Aliran perintah emosi itu memiliki 2 macam cara yang simultan., yakni komunikasi pada beberapa struktur otak dan melakukan fungsi merespon situasi yang menimbulkan tantangan (terdiri dari 7 hal, yakni yang bisa membangkitkan harapan, kemarahan, ketakutan, dorongan seksual, perlindungan, kepanikan atau keterpisahan, dan permainan atau dominasi). Keduanya menyampaikan informasi dari organ pengindra (penglihat, pendengar, pencium, perasa, peraba), association cortex, dan dari memori ke sistem limbik dan bagian lain dari sistem syaraf. Sebagai hasilnya, individu akan berperilaku secara integral dan adaptif. Jika marah maka akan menunjukkan ekspresi marah. Tidak akan terjadi saat marah malah menunjukkan ekspresi bahagia.

Menjadi Diri Sendiri Ditinjau Dari Sisi Psikologis

Bayangkan diri Anda membeli sebuah mobil baru. Apa yang Anda rasakan ? Senang dan bahagia ? Sekarang bayangkan Anda berhasil melakukan sesuatu yang dari dulu benar-benar ingin Anda lakukan. Seperti, mendapatkan pekerjaan yang Anda dambakan, mencapai puncak sebuah gunung yang dari dulu ingin Anda daki, atau berhasil membuat sebuah resep masakan dengan sempurna. Apa yang Anda rasakan ? Senang dan bahagia ? Adakah perbedaan perasaan senang dan bahagia pada kedua bayangan tersebut ?


Sejak jaman Yunani kuno, Aristoteles sudah merasa bahwa ada kebahagiaan lain yang melebihi kebahagiaan yang sekedar memberikan rasa senang, seperti membeli mobil baru, merasakan nikmatnya mabuk setelah meminum alkohol, melakukan hubungan seks dan lain-lain. Jika Aristoteles menamakan kebahagiaan yang menimbulkan rasa senang sebagai kebahagiaan Hedonic, Aristoteles menamakan kebahagiaan “lain” ini sebagai kebahagiaan Eudaimonic, yaitu saat seseorang merasa potensi hidupnya telah berjalan secara maksimal.

Kebahagiaan Eudamonic, menurut Aristoteles, kebahagiaan yang tidak kosong atau yang hilang setelah sumber kebahagiaan itu sudah tak terlihat mata atau tak terasa oleh indera perasa. Sebagai contoh, menjalin hubungan yang indah dengan seseorang bisa mendatangkan senyum ke wajah kita, bahkan saat orang tersebut sedang jauh di negeri seberang, atau bahkan sudah meninggal.

Menurut Aristoteles, kebahagiaan Eudaimonic lebih bersifat kejiwaan, sehingga lebih membuat jiwa seseorang sejahtera. Lihat saja contoh di atas, perasaan saat kita berhasil meraih cita-cita yang sudah lama kita impikan tentu lebih berharga dari sebuah mobil baru, ‘kan? Peneliti di jaman modern ini mengamini penjelasan Aristoteles.

Tiga orang peneliti dari Amerika Serikat (Michael Steger, Todd Kashdan, dan Shigehiro Oishi) membuktikan perkataan Aristoteles. Mereka menemukan bahwa dalam hidup, orang akan menemukan kebahagiaan Hedonis atau kebahagiaan Eudamonic. Tapi hanya kebahagiaan Eudamonic yang berhubungan dengan kesejahteraan jiwa (psychological well-being). Mereka menemukan bahwa setelah menjalani kebahagian Eudamonic, orang merasa hidupnya lebih memuaskan, merasa bahwa hidupnya lebih memiliki arti, dan merasakan emosi yang lebih positif.

Salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan Eudamonic adalah dengan menjadi diri sendiri. Sebagai ilustrasi, bayangkan seorang akuntan yang merasa bahwa dia lebih senang menjadi seorang pelukis. Tentu dia akan merasa lebih bahagia jika dia beralih profesi menjadi seorang pelukis (atau setidaknya mendapat kesempatan ikut les lukis di akhir pekan). Atau contoh lain, seorang istri yang merasa bersalah karena dia tertarik pada rekan kerjanya di kantor. Rasa bersalahnya ini (yang menghambat rasa bahagia) dapat dihilangkan dengan menerima kenyataan bahwa dia tertarik pada orang lain selain suaminya, dan hal tersebut tidak apa-apa asalkan dia tidak selingkuh dengan orang tersebut.

Menjadi diri sendiri memang membutuhkan usaha dan keberanian. Kita harus bersedia mendengarkan dan menerima pikiran-pikiran tergelap kita. Kita juga harus mencoba mengikuti keinginan terdalam kita (misal, seorang pria yang ingin operasi kelamin karena merasa bahwa jiwanya adalah wanita) walaupun mendapatkan tekanan dari keluarga atau lingkungan di sekitar kita. Menjadi diri sendiri memang memiliki resiko sendiri. Tetapi, di jaman yang makin terbuka ini, sekarang adalah saat yang paling kondusif untuk mencoba menjadi diri sendiri, agar Anda bahagia dan sejahtera secara psikologi.

 
Cara-cara untuk Menjadi Diri Sendiri
  1. Membaca novel. Membaca novel memberikan kesempatan bagi Anda untuk melihat sudut pandang orang lain. Mungkin, dengan mengeksplorasi sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang Anda, justru Anda akan menemukan sudut pandang yang lebih cocok dengan diri Anda.
  2. Meditasi. Selain menjadi kesempatan untuk mendengarkan suara-suara di dalam diri Anda, meditasi dapat memberikan kebahagiaan yang tidak tergantung pada hasil kerja Anda. Dengan mengetahui kebahagiaan murni tersebut, Anda bisa mencari tahu apa yang benar-benar membuat Anda bahagia.
  3. Memilih apa yang Anda inginkan. Jangan biarkan lingkungan mendikte Anda. Tentukan apa yang Anda inginkan, dan lakukanlah. Sekali-sekali bahkan jangan terlalu memikirkan keputusan Anda.
  4. Berhubungan dengan orang lain. Temukan bahwa orang lain juga ingin (dan sudah) menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.
  5. Bersenang-senang sesuai dengan siapa diri Anda. Olah raga atau berbincang-bincang tanpa arah dengan teman Anda di kafe mungkin adalah ide baik (jika memang Anda menyukainya).
  6. Menerima kekalahan. Jangan biarkan kegagalan menambah ketidakbahagiaan Anda. Menerima kegagalan terbukti dapat mengurangi rasa kecewa.

Minggu, 23 Juni 2013

Pembagian Emosi Berdasarkan Nilai Positif Dan Negatif

Emosi bisa dibedakan dalam nilai positif dan negatif. Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak jelas posisinya. Kadang bisa sebagai emosi positif kadang bisa sebagai emosi negatif, seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif berperan dalam memicu munculnya kesejahteraan emosional (emotional well-being) dan memfasilitasi dalam pengaturan emosi negatif. Jika emosi Anda positif, maka Anda akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. Misalnya saat Anda sedang merasa bahagia, tiba-tiba ada yang memaki Anda, maka Anda lebih sulit untuk tersinggung. Emosi-emosi yang bernilai positif diantaranya adalah sayang, suka, cinta, bahagia, gembira, senang, dan lainnya.
 
 

Emosi negatif menghasilkan permasalahan yang mengganggu individu maupun masyarakat. Biasanya, orang menekankan pada emosi yang negatif. Anda cenderung untuk lebih memperhatikan emosi-emosi yang bernilai negatif. Misalnya sedih, marah, cemas, tersinggung, benci, jijik, muak, prasangka, takut, curiga dan sejenisnya. Bukankah emosi-emosi itu mengganggu Anda? Mereka yang mudah tersinggung, gampang marah-marah, dan berprasangka tidak akan disukai masyarakat. Mereka yang mengalaminya pun tidak akan merasakan sejahtera dalam hidupnya.

Emosi positif dan negatif sangat mempengaruhi perasaan sejahtera seseorang. Orang yang memiliki banyak emosi positif dan kurang memiliki emosi negatif biasanya merupakan orang-orang yang berbahagia atau sejahtera dalam hidupnya. Sedangkan mereka yang lebih banyak memiliki emosi negatif hidupnya kurang sejahtera. Selain oleh emosi, perasaan sejahtera juga ditentukan oleh kepuasan hidup. Jika seseorang merasa bahwa hidupnya secara keseluruhan memuaskan, maka ia akan mengalami sejahtera (kehidupan yang berbahagia). Singkatnya, seseorang yang memiliki derajat tinggi akan perasaan sejahtera adalah ia yang puas terhadap hidupnya, banyak mengalami emosi yang positif dan kurang mengalami emosi yang negatif.